Langsung ke konten

Inflasi Explainer

Apa Itu Inflasi dan Bagaimana Dampaknya terhadap Tabungan Sehari-hari?

Inflasi membuat harga barang dan jasa meningkat sehingga daya beli uang menurun. Pahami dampaknya terhadap tabungan, cara menghitung imbal hasil riil, dan langkah praktis untuk menjaga daya beli.

Daftar isi

Inflasi sering terasa bukan lewat istilah ekonomi, melainkan melalui belanja sehari-hari. Uang yang sebelumnya cukup untuk membeli beberapa kebutuhan dapat terasa lebih cepat habis ketika harga makanan, transportasi, atau kebutuhan rumah tangga meningkat. Karena itu, inflasi penting dipahami oleh siapa pun yang menyimpan uang, terutama masyarakat dengan penghasilan tetap.

Secara sederhana, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Jadi, kenaikan harga satu barang saja belum tentu disebut inflasi. Yang diperhatikan adalah kecenderungan kenaikan harga secara lebih luas. Bank Indonesia menjelaskan inflasi sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan.

Bagaimana inflasi memengaruhi pengeluaran sehari-hari?

Bayangkan sebuah barang yang harganya Rp100.000. Dalam ilustrasi dengan inflasi 3% per tahun, harga barang tersebut menjadi Rp103.000. Jika pendapatan tidak ikut meningkat, Anda perlu menyediakan uang lebih banyak untuk membeli barang yang sama. Inilah yang disebut penurunan daya beli: jumlah uang yang sama hanya dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dibandingkan sebelumnya.

Contoh lain terlihat pada harga telur ayam dalam ilustrasi publikasi Kementerian Keuangan. Harga rata-rata telur ayam tercatat Rp24.833 per kilogram pada 2019 dan Rp32.600 per kilogram pada 2024. Perubahan harga tersebut tidak berarti semua barang naik dengan besaran yang sama, tetapi menunjukkan mengapa perubahan harga kebutuhan pokok dapat memengaruhi anggaran rumah tangga.

Inflasi dapat dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara arus uang dan ketersediaan barang. Faktor dari sisi penawaran juga berperan. Kementerian Keuangan memberi contoh bahwa kenaikan biaya produksi, termasuk akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Bagaimana inflasi memengaruhi tabungan Anda

Menabung membuat jumlah uang secara nominal tetap terlihat, tetapi nilai yang dapat dibeli oleh uang tersebut bisa berubah. Misalnya, saldo tabungan tetap tercatat dalam rupiah, tetapi harga kebutuhan meningkat. Akibatnya, saldo yang sama memiliki kemampuan belanja yang lebih rendah.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan, nilai riil tabungan akan berkurang apabila bunga tahunan tabungan lebih kecil daripada tingkat inflasi. Nilai riil berarti daya beli setelah memperhitungkan perubahan harga, bukan hanya angka saldo yang terlihat di rekening.

Artinya: tabungan dapat bertambah secara nominal, tetapi tetap berkurang secara riil. Jika bunga tabungan 2% per tahun sementara inflasi 4%—sebuah ilustrasi yang dimuat oleh sumber perbankan—maka pertumbuhan saldo belum cukup untuk mengimbangi kenaikan harga secara umum. Perbandingan ini bukan angka inflasi terkini, melainkan contoh untuk memahami konsep.

Perbedaan antara inflasi dan suku bunga

Inflasi dan suku bunga sering dibahas bersamaan, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Inflasi menunjukkan seberapa cepat harga barang dan jasa secara umum meningkat. Suku bunga menunjukkan imbalan atau biaya atas penggunaan uang, misalnya bunga yang diterima dari tabungan atau bunga yang dibayar atas pinjaman.

Untuk menilai apakah tabungan bertambah secara riil, bandingkan bunga tabungan dengan inflasi pada periode yang sama. Cara sederhananya adalah:

  • Catat bunga tabungan yang diterima dalam satu tahun.
  • Bandingkan dengan tingkat inflasi pada periode tersebut.
  • Jika bunga lebih tinggi daripada inflasi, daya beli tabungan berpeluang meningkat, dengan catatan ada faktor lain yang perlu diperhitungkan.
  • Jika bunga lebih rendah daripada inflasi, daya beli tabungan cenderung menurun.

Perbandingan ini disebut menilai imbal hasil riil secara sederhana. Perhitungan tersebut belum memasukkan semua kemungkinan biaya atau pajak, sehingga hasil bersih yang diterima dapat berbeda dari bunga yang tercantum.

Kelompok yang paling rentan terhadap inflasi

Kelompok berpendapatan tetap cenderung lebih rentan terhadap inflasi. Jika pendapatan tidak berubah sementara harga kebutuhan meningkat, porsi penghasilan yang digunakan untuk belanja akan membesar. Bank Indonesia menjelaskan bahwa inflasi dapat menurunkan pendapatan riil kelompok tersebut.

Inflasi yang tinggi dan tidak stabil juga menyulitkan rumah tangga menyusun anggaran. Biaya kebutuhan masa depan menjadi lebih sulit diperkirakan, sementara target tabungan yang dibuat dengan angka lama mungkin tidak lagi memadai.

Langkah praktis untuk menjaga daya beli tabungan

  1. Bedakan saldo nominal dan nilai riil. Jangan hanya melihat apakah saldo bertambah. Tanyakan apakah pertambahannya mampu mengejar kenaikan harga.
  2. Evaluasi tabungan secara berkala. Bandingkan bunga atau imbal hasil yang diterima dengan informasi inflasi pada periode yang sama. Gunakan sumber resmi seperti Bank Indonesia untuk memahami data inflasi.
  3. Susun anggaran berdasarkan kebutuhan utama. Catat pengeluaran untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan kesehatan. Langkah ini membantu melihat pos yang paling terpengaruh kenaikan harga.
  4. Sesuaikan target dana masa depan. Target nominal untuk kebutuhan beberapa waktu mendatang perlu ditinjau ulang apabila harga barang yang dituju meningkat.
  5. Jangan menempatkan semua tujuan pada satu jenis penyimpanan. Untuk pilihan produk keuangan, pahami tingkat risiko, likuiditas, jangka waktu, dan potensi imbal hasilnya. Tidak ada pilihan yang otomatis cocok untuk semua orang.
  6. Prioritaskan pemahaman sebelum memilih instrumen. Sumber populer kadang menyebut aset tertentu, seperti properti, dapat berkinerja lebih baik ketika inflasi tinggi. Namun, kinerja tersebut tidak dijamin dan setiap aset memiliki risiko, biaya, serta tingkat kemudahan pencairan yang berbeda.

Apa arti inflasi bagi rumah tangga?

Inflasi tidak selalu berarti kondisi ekonomi sepenuhnya buruk. Kementerian Keuangan menyebut inflasi yang moderat dan terkendali dapat memberikan manfaat tertentu bagi perekonomian, seperti mendorong pertumbuhan ekonomi atau meringankan beban utang. Namun, bagi rumah tangga, inflasi tetap perlu diperhitungkan karena langsung memengaruhi biaya hidup dan nilai riil tabungan.

Langkah awal yang paling mudah adalah membuat daftar kebutuhan, memantau perubahan pengeluaran, lalu membandingkan bunga tabungan dengan inflasi. Dengan begitu, keputusan menabung tidak hanya berfokus pada jumlah rupiah yang terkumpul, tetapi juga pada daya beli yang dapat dipertahankan.

Ringkasan: Dampak inflasi pada tabungan

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan. Dampaknya, uang dengan jumlah nominal yang sama dapat membeli lebih sedikit barang di masa depan. Tabungan pun bisa kehilangan nilai riil apabila bunga yang diterima lebih rendah daripada inflasi.

Bagi masyarakat umum, memahami inflasi tidak harus dimulai dari rumus yang rumit. Mulailah dengan membandingkan imbal hasil tabungan dan inflasi, meninjau anggaran, menyesuaikan target kebutuhan, serta memahami risiko setiap pilihan penyimpanan dana. Fokus utamanya adalah menjaga agar uang yang disisihkan tetap memiliki daya beli yang sesuai dengan tujuan keuangan.

Sumber

Komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *